Publikasi - Berita

Jumat, 29 Juli 2022 16:24 WIB

Pustaka Akademik MPR Bahas Budaya Epistemik

post

Malang,- Pelaksana Tugas Deputi Administrasi Sekretaris Jendral MPR RI Siti Fauziah SE.,  MM., mengatakan, Sosialisasi Empat Pilar yang dilakukan MPR tidak melulu menggunakan metode yang serius. Seperti  seminar, diskusi, hingga ceramah. Tetapi Sosialisasi Empat Pilar MPR RI juga  dilakukam dengan metode yang ringan dan menghibur. Antara lain, menggunakan novel dan komik bagi remaja dan mahasiswa serta anak-anak.

"Sosialisasi Empat Pilar MPR diberuntukkan bagi seluruh masyarakat. Karena itu kami memiliki berbagai metode, menyesuaikan audiencenya, agar mudah dipahami dan lebih mengena," kata Siti Fauziah menambahkan.

Pernyataan itu disampaikan Bu Titik panggilan akrab Siti Fauziah saat memberi sambutan dan membuka Pustaka Akademik dengan tema Bedah Karya Ilmiah "Tridharma Dan Kebangsaan Budaya Epistemik Di Perguruan Tinggi Dan Parlemen. Acara tersebut berlangsung di Auditorium Gedung E lantai 10 Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya (UB)  Malang Jawa Timur, Kamis (28/7/2022).

Pada kesempatan,  tersebut juga dilakukan penandatanganan  Nota Kesepahaman Antara Perpustakaan MPR RI Dengan Fakultas Ilmu Administrasi UB. Penandatanganan, dilakukan oleh Siti Fauziah selaku wakil dari pihak MPR RI dan Arik Prasetya S. Sos, MSi, Ph. D., Wakil Dekan Bidang Akademik mewakili FAI Universitas Brawijaya.

Tiga narasumber menyampaikan pendapatnya  dalam kegiatan Pustaka Akademik tersebut. Yaitu, Ir. H. M. Ridwan Hisjam (Anggota Fraksi Partai Golkar MPR RI), Dr. Sarwono M. Si Dosen Senior dan Ketua Laboratorium Perpustakaan dan Arsip FAI UB. Serta M. Rosyihan Hendrawan SIP, M. Hum Pengurus Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia

Pada kesempatan, itu Bu Titik  tak lupa mengundang Civitas Akademika FAI UB untuk berkunjung ke perpustakaan MPR. Karena di Perpustakaan MPR , banyak disimpan buku-buku yang tidak diperjualbelikan dan tidak ada di tempat lain.

"Tetapi, kalau belum ada kesempatan berkunjung ke MPR, buku-buku tersebut bisa diakses melalui buku digital dengan mendownload terlebih dahulu di AppStore," pungkas Siti Fauziah.

Sementara itu, Ir. H. M. Ridwan Hisjam, Anggota Fraksi Partai Golkar MPR RI, saat menyampaikan makalahnya antara lain mengatakan, Budaya Epistemik harus menjadi dasar bagi eksekutif dalam perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan. Seperti halnya Tri Dharma yang selalu dipegang dan diperjuangkan civitas akademika.

"Nenek moyang kita  meninggalkan budaya gotong royong, bersama-sama saling bantu meringankan beban orang lain. Demikian pula hendaknya pembangunan yang dilaksanakan pemerintah, harus bisa menjamin lahirnya keadilan dan kesejahteraan bagi semua, bukan hanya masyarakat tertentu saja," kata Ridwan Hisjam menambahkan.

Sayangnya, kata Ridwan Hisjam perpustakaan sebagai salah satu tempat menyimpan hasil   Budaya Epistemik kurang mendapat perhatian. Banyak perpustakaan, baik di perguruan tinggi maupun lembaga dibiarkan begitu saja. Bahkan, banyak akademisi yang tidak akrab dengan perpustakaan, apalagi dari kalangan politisi.

"Kita memiliki banyak sekali hasil kajian, tapi sebagian besar diantaranya hanya disimpan, dan tidak memberi manfaat bagi masyarakat, kecuali menambah panjang daftar curiculum vitae para penelitinya," kata Ridwan lagi.

Pernyataan lain disampaikan Dr. Sarwono M. Si.  Dosen Senior dan Ketua Laboratorium Perpustakaan dan Arsip FAI UB, ini mengatakan budaya adalah tradisi lama yang sudah mendarah daging. Sedangkan epistemik merupakan cara berfikir akademik. Budaya epistemik kata Sarwono  mestinya sanggup membawa kebenaran dan kemaslahatan bagi orang banyak. Sayangnya banyak penelitian dilakukan sesuai budaya epistemik tetapi nanya berhenti pada tataran ilmiah. Belum bisa memberi manfaat bagi masyarakat.

"Banyak teori baru, lahir  dari budaya epistemik  tapi tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Sehingga tidak bisa berkontribusi bagi masyarakat. Sedangkan di perlemen budaya epistemik itu belum dilakukan secara maksimal, tetapi diparlemen itu  yang dibutuhkan adalah manfaatnya bagi masyarakat, bukan pada penerapan budaya epistemiknya," kata Sarwono menambahkan.

Organisasi Internal