Publikasi - Berita

Selasa, 12 Juli 2022 09:42 WIB

Sarasehan di UIN Malang, Budi Muliawan Ajak Mahasiswa Gelorakan Semangat Kebangsaan lewat Medsos

post

Perkembangan teknologi informasi begitu cepat. Saat ini, hampir tidak ada lini kehidupan yang lepas dari teknologi informasi, terutama di kalangan anak muda. Sayangnya, belum semua kalangan muda, termasuk mahasiswa menjadikan teknologi informasi dan media sosial (medsos) untuk hal-hal yang positif.

Kepala Bagian Pemberitaan dan Hubungan Antarlembaga Setjen MPR Budi Muliawan SH., MH mengajak para mahasiswa untuk memanfaatkan medsos untuk aktivitas yang memberikan nilai tambah. Salah satunya untuk menggelorakan kembali semangat dan nilai-nilai kebangsaan. ”Mari kita gunakan media sosial untuk menggelorakan nilai-nilai kebangsaan seperti persatuan, gotong royong, dan pengamalan nilai-nilai Pancasila,” ujar Budi Muliawan di hadapan ratusan mahasiswa yang mengikuti Sarasehan Kehumasan MPR bertajuk Menyapa Sahabat Kebangsaan di Auditorium Fakultas Humaniora dan Budaya, Gedung KH. Oesman Mansoer, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki), Kota Malang, Jawa Timur, Jumat (8/7/2022).

Hadir dalam sarasehan bertema Peran Mahasiswa dalam Mengisi Kemerdekaan itu, Plt. Deputi Administrasi Setjen MPR Siti Fauziah SE., MM, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Dr. Marno, M.Ag; Kasubag Humas, Dokumentasi, dan Publikasi Fathul Ulum SPdI, serta ratusan mahasiswa dari berbagai fakultas dan jurusan.

Dikatakan Budi Muliawan, mahasiswa harus bisa menjadikan Facebook, Twitter, Instagram, Tiktok, Youtube atau platform lainnya untuk menyebarkan nilai-nilai luhur bangsa. Sebab, mahasiswa merupakan agen perubahan yang memiliki tantangan sesuai dengan zamannya.

Menurutnya, peran mahasiswa dalam sejarah bangsa terjadi sejak 1908, tepatnya pada 20 Mei dengan berdirinya organisasi pemuda, Budi Utomo. Organisasi ini didirikan mahasiswa STOVIA sebagai awal dari Kebangkitan Nasional. ”Perjuangan yang awalnya mengandalkan perlawanan fisik, kemudian melibatkan politik diplomasi,” ujar alumni Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang tersebut.

Semangat dari pemuda dan mahasiswa pada 1908 berlanjut pada 28 Oktober 1928 saat Kongres Pemuda II yang melahirkan Sumpah Pemuda. Organisasi-organisasi pemuda dari berbagai suku dan agama berikrar bertumpah darah, berbahasa, dan berbangsa yang satu Indonesia.

Pada masa kemerdekaan, pemuda juga mempunyai peran yang besar dalam mendorong percepatan kemerdekaan. Peran mahasiswa terus berlanjut dan menjadi pendorong utama pada perubahan di tahun 1966 dan 1998.

Dari sejarah perjalanan bangsa, Budi Muliawan menyebut mahasiswa memiliki banyak peran tidak hanya meletakan pondasi persatuan bangsa, namun juga pada peran-peran lain di tengah masyarakat sebagai moral force, social control, agent of change, iron stock, dan guardian of value. “Dari lima peran itu, kalau dipersingkat artinya mahasiswa adalah calon penerus bangsa yang tetap bisa menyuarakan yang benar di masyarakat,” ujarnya.

Mahasiswa juga dituntut untuk menjunjung tinggi nilai-nilai moral. “Mahasiswa mempunyai ruang untuk menyampaikan sesuatu yang benar dan baik,” tuturnya. Suara mahasiswa disebut lebih lantang dibanding kelompok yang lain.

Nah, di tengah kemajuan teknologi informasi saat ini, mahasiswa harus ikut mengambil peran untuk menjawab tantangan era digital. Mahasiswa harus mampu beradaptasi dengan perubahan dan tidak terseret arus perkembangan zaman, melakukan inovasi yang bermanfaat,  memberikan edukasi dan ajakan positif melalui sosial media,  dan melawan berita bohong (hoax).

Jika mahasiswa tidak melakukan inovasi, kata Budi Muliawan, akan menciptakan generasi mageran alias malas bergerak. ”Kemajuan teknologi membuat banyak kemudahan dalam kehidupan, seperti kuliah bisa dilakukan lewat online, pesan makanan bisa langsung lewat aplikasi, dan bersosialisasi lewat medsos seperti WA tanpa ada pembatasan ruang dan waktu. Namun hal ini membawa dampak mageran dan kurang bersosialisasi,” tuturnya.

Budi Muliawan mengatakan bahwa era disrupsi adalah terjadinya inovasi dan perubahan secara masif yang bersifat fundamental, mengubah berbagai sistem dan tatanan ke cara yang baru. Ciri-ciri era disrupsi ditandai dengan perubahan yang cepat dengan pola yang sulit ditebak sehingga menyebabkan ketidakpastian, kompleksitas hubungan antar faktor penyebab perubahan, dan kekurangjelasan arah perubahan yang menyebabkan ambiguitas. ”Cara menghadapi era disrupsi ini, mari kita tingkatkan kualitas SDM, lakukan transformasi digital, dan jangan berhenti berinovasi,” ujarnya. (*)

Organisasi Internal