Publikasi - Berita

Senin, 13 Desember 2021 17:45 WIB

Dialog Kebangsaan Dengan Kaukus Muda Indonesia Di Gedung Joang 45, Ma'ruf Cahyono: Ngobrol Soal Ideologi Negara Bukan Jadul

post

Ratusan pemuda dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi, dan Tangerang, pada Senin 13 Desember 2021 berkumpul di salah satu aula Gedung Joang 45, Menteng, Jakarta. Kehadiran para mahasiswa dan pemuda yang tergabung dalam Kaukus Muda Indonesia (KMI) di gedung bersejarah itu untuk mengikuti Dialog Kebangsaan Generasi Muda Indonesia.

Hadir dalam acara itu, Sekretaris Jenderal MPR Dr. Ma’ruf Cahyono SH., MH., Ketua Pelaksana Sosialisasi sekaligus Pengurus KMI Ahmad Wasil S.Ag., MSi., serta aktivis organisasi mahasiswa dan kepemudaan lainnya.

Di awal pemaparan, Ma’ruf Cahyono menuturkan dirinya merasa bahagia sebab bisa berdiri di salah satu ruangan di gedung yang mempunyai sejarah penting dalam perjuangan bangsa. “Kegiatan yang digelar di tempat ini juga sebagai refleksi perjalanan generasi muda dalam kontribusinya dalam gerakan untuk Indonesia merdeka,” tuturnya.

Kepada para generasi muda yang hadir di aula, alumni Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman (FH Unsoed), Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, itu mengatakan kehadirannya untuk memenuhi undangan KMI guna berdialog dan berdiskusi tentang paham kebangsaan. “Acara hari ini merupakan momentum yang baik,” ujarnya. Disebut demikian sebab belum tentu semua orang bisa hadir, dikatakan mungkin karena faktor kesehatan sehingga tak bisa mengikuti acara ini.

“Dengan acara ini, ilmu kita akan bertambah,” papar pria yang menjadi Ketua Keluarga Alumni FH (KAFH) Unsoed itu. Diharapkan bila ilmu sudah didapat, apa yang diperoleh itu diamalkan dengan cara disampaikan kepada orang atau masyarakat lain. “Ilmu akan bermanfaat bila diamalkan atau disebarkan kepada yang lain,” tuturnya. Selepas acara itu peserta didorong bisa menjadi ‘narasumber’ paham kebangsaan kepada yang lain. “Katakan kalau ngobrol soal ideologi negara itu bukan sesuatu yang jadul (jaman dulu)”, tegasnya.

Dalam pemaparan, pria yang juga menjadi Pengurus Pusat Keluarga Alumni Unsoed, itu bertanya kenapa suatu bangsa memerlukan ideologi. Dirinya pun mengandaikan kalau kita berdiri dengan penopang yang lemah maka badan memang bisa berdiri namun hal demikian disebut tidak kokoh dan kuat. Pun demikian pula bila hendak membangun suatu rumah pasti dperlukan pondasi atau dasar yang kuat.

Dari sinilah Plt Sekretaris Jenderal DPD tahun 2017 - 2018 itu mengatakan perlunya untuk membicarakan ideologi yang kuat. Bangsa ini disebut memiliki dasar negara yang disebutnya Pancasila. Pancasila merupakan kesepakatan para pendiri bangsa. Agar Pancasila sebagai dasar negara kuat maka ideologi ini menurutnya harus dijaga dan dirawat.

Dasar negara yang kuat menurut pria asal Banyumas itu penting sebab tak ada bangsa besar yang memiliki dasar negara yang lemah. “Kita lihat bangsa-bangsa besar di dunia, mereka memiliki dasar negara yang kokoh,” ucapnya.

Pancasila sebagai dasar negara menurut sosok yang masuk dalam 100 tokoh yang berpengaruh di Jawa Tengah disepakati pendiri bangsa setelah melalui perdebatan panjang. Untuk itulah setiap warga negara dalam keseharian harus mengimplementasikan nilai-nilai yang ada dalam sila-sila Pancasila. Untuk mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dikatakan bisa dimulai dari lingkungan terkecil, keluarga. “Bila semua sudah mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila maka bangsa ini akan hidup dalam suasana yang seperti dicitacitakan oleh pendiri bangsa,” papar pria yang menjadi dosen Magister Hukum di berbagai perguruan tinggi itu.

Diakui oleh pria yang saat ini menambah gelar doktor di Program Kajian Stratejik Global Universitas Indonesia itu, untuk mengimplementasikan nilai-nilai itu ada saja tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Tantangan itu ada yang datang dari luar, ada pula tantangan dari bidang politik, budaya, ekonomi, sosial budaya, serta pertahananan dan keamanan. Untuk itu diharap generasi muda tetap bersemangat dalam menjaga Pancasila.   

Organisasi Internal