Publikasi - Berita

Minggu, 12 Desember 2021 11:37 WIB

Diskusi Sarasehan Kehumasan MPR, Budi Muliawan Dorong Mahasiswa Tingkatkan Kualitas Diri Hadapi Era Menuju Revolusi Industri 5.0

post

Semarang - MPR Menyapa Sahabat Kebangsaan hadir di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Kota Semarang.  Kehadiran MPR di kampus tersebut, adalah untuk mengajak para sahabat mahasiswa membahas dan mendiskusikan tentang tema yang diangkat yakni ‘Peran Mahasiswa Dalam Menyambut Indonesia Emas 2045'.

Acara yang digelar di Ruang Seminar, Gedung Kuliah Bersama (GKB) Unissula, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (10/12/2021) itu, dibuka secara resmi oleh Kepala Biro Humas dan Sistem Informasi Setjen MPR RI Siti Fauziah, SE, MM, dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif oleh para narasumber yakni, Kepala Bagian Pemberitaan dan Hubungan Antarlembaga Biro Humas dan Sistem Informasi Setjen MPR, Budi Muliawan, SH, MH dan Wakil Rektor III Unissula M. Qomaruddin, ST, M.Sc, Ph.D.

Turut hadir dalam acara yang dilaksanakan secara fisik dan virtual itu antara lain, Wakil Dekan I FH Unissula Dr. Widayati, SH, MH serta mahasiswa Unissula berbagai fakultas sebagai peserta.

Dalam paparan awalnya, Budi Muliawan menyampaikan bahwa Indonesia di masa depan, harus menjadi sebuah negara yang maju dan mampu memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonsia yaitu Indonesia yang merdeka, berdaulat adil dan makmur.  Cita-cita besar itu, saat ini makin terlihat jelas saat pemerintah merancang sebuah gagasan luar biasa yakni visi Indonesia Emas 2045 dengan jargon 'Berdaulat, Maju, Adil dan Makmur'.

Budi Muliawan melihat, gagasan tersebut sangatlah tepat mengingat pada tahun 2045, Indonesia genap berusia 100 tahun.  Pada saat itu,  Indonesia diprediksi telah memasuki bonus demografi.  "Bonus demografi merupakan suatu kondisi di mana penduduk yang masuk ke dalam usia produktif di rentang usia 15 sampai 64 tahun, jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan penduduk usia tidak produktif," jelasnya.

Kondisi tersebut, lanjutnya, harus disikapi dengan bijak dan hati-hati.  Sebab, bonus demografi yang awalnya diharapkan akan berdampak baik, bisa menimbulkan permasalahan tersendiri jika banyaknya usia produktif tidak dikelola.  Namun, sebaliknya kalau dikelola dengan benar, maka akan menjadi kekuatan yang mampu mempercepat pertumbuhan kemajuan bangsa.

"Lalu dimana peran pemuda? peran pemuda dan mahasiswa untuk mewujudkan Indonesia Emas di tahun 2045 sangat besar.  Sebab, pemuda dan mahasiswa yang saat ini baru berusia 18-23 tahun, di tahun 2045 akan berusia 42 dan 47 tahun, usia yang sudah matang untuk mengisi bidang-bidang strategis dan membuat kebijakan," ujarnya.

Begitu pentingnya peran generasi milenial itu, Budi Muliawan mendorong para pemuda bangsa untuk segera mungkin bangkit meningkatkan kualitas diri dalam menyongsong dan mewujudkan Indonesia Emas 2045. Namun, para pemuda mesti menyadari, dalam rentang waktu hingga 2045, tentu saja mereka akan berhadapan dengan berbagai tantangan besar.  Salah satunya adalah, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dan persaingan di era modernisasi.

"Persaingan ini bukan hanya antar manusia saja, tapi tidak menutup kemungkinan di masa depan, manusia akan bersaing dengan Artificial Intelligence (AI), akibat pesat dan massifnya perkembangan teknologi.  Apalagi, saat ini Indonesia sudah memasuki era Revolusi Industri 4.0 dan akan menuju 5.0," tegasnya.

Budi Muliawan menjabarkan, revolusi industri adalah perubahan besar terhadap cara manusia dalam mengolah sumber daya dan memproduksi barang.  Dalam perkembangannya, dunia termasuk Indonesia sudah mengalami empat era revolusi industri.  Pertama, Revolusi Industri 1.0. Ini adalah revolusi yang pertama, dan terjadi pada abad ke-18 ditandai dengan penemuan mesin uap.  Penemuan ini membuat tahap produksi barang hingga pengiriman menjadi lebih efisien.

Kedua, Revolusi Industri 2.0. Revolusi ini terjadi di awal abad 20, ditandai dengan penemuan tenaga listrik yang menggantikan mesin uap.  Tenaga listrik membuat produksi berjalan dengan lebih efisien dan menghemat biaya.  Sebab, tenaga listrik jauh lebih murah dibandingkan uap.  Ketiga, Revolusi Industri 3.0.  Revolusi ini ditandai dengan terciptanya komputer dan robot.  Dalam perkembangannya, teknologi komputer makin modern dengan terciptanya Integrated Chip (IC).  Teknologi ini membuat sosok komputer yang awalnya besar, menjadi lebih kecil dan ringkas sehingga bisa dipasang di mesin-mesin industri.

Keempat, Revolusi Industri 4.0.  Era revolusi ini ditandai dengan muncul atau terciptanya internet, teknologi digital dan informasi serta penggunaannya secara luas yang mempengaruhi hampir seluruh bidang kehidupan masyarakat.  "Sekarang kita sedang menuju era yang lebih tinggi lagi, yakni Era Revolusi 5.0.  Dimana, teknologi digital semakin luarbiasa canggihnya, seperti pengembangan dan penciptaan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan," tambah Budi Muliawan.

Pada intinya, Budi Muliawan menekankan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi global sangat cepat tak terbendung. Jika, generasi muda tidak mampu beradaptasi, kemudian lengah dan tidak berupaya sedikitpun untuk meningkatkan kualitas diri, maka bangsa ini akan tertinggal dari persaingan global.

Sementara itu, Wakil Rektor III Unissula M. Qomaruddin, ST, M.Sc, Ph.D mengatakan bahwa visi Indonesia Emas 2045, sebenarnya sudah menjadi cita-cita para pendiri bangsa Indonesia.  "100 tahun Indonesia merdeka adalah momen yang tepat untuk mewujudkannya.  Apalagi, pemahaman dan pengembangan IPTEK oleh bangsa Indonesia di era modernisasi ini sudah sedemikian maju, jadi harapan kita bersama visi Indonesia Emas itu bisa terwujud," ujarnya.

Namun, lanjut Qomaruddin, hal itu tergantung para mahasiswanya atau generasi muda Indonesia secara umum.  Mimpi Indonesia Emas akan semakin jauh, jika karena kemajuan teknologi yang makin hari makin mempermudah hidup, generasi muda kita menjadi terlena diperbudak teknologi dan tidak menjadikan teknologi sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan dirinya.

"Hal itulah yang harus disadari para mahasiswa.  Jangan sampai generasi milenial kita menjadi generasi rebahan.  Itu sangat berbahaya untuk keberlangsungan perwujudan visi Indonesia Emas 2045. Saya berharap mahasiswa dan seluruh elemen masyarakat, untuk bersama-sama bersinergi serta bekerja keras agar Indonesia di masa depan muncul sebagai negara maju dan mampu bersaing dengan negara lain," pungkasnya.

Organisasi Internal